Sistem SKS Diminta Bertahap

Oktober 19, 2009

Diambil dari : Seputar Indonesia, Minggu 18 Oktober 2009 JAKARTA(SI)

Pemerintah diminta tidak serta merta menerapkan sistem kredit semester (SKS) di sekolah kategori mandiri dan berstandar internasional. SKS sebaiknya diterapkan secara bertahap. Koordinator Koalisi Pendidikan Lody Paat menilai, sistem SKS justru akan membebani siswa. Terutama, jika sistem ini diterapkan pada awal-awal tingkatan. Sebab, menurut dia,dibutuhkan kesiapan sumber daya pengajar dan siswa agar dapat menerima perubahan sistem ini. “Guru juga belum siap. Saat kuliah saja, para dosen tidak maksimal menjalankan SKS di perguruan tingginya. Sekarang, bagaimana mungkin diterapkan secara benar di sekolah?” kata Lody di Jakarta kemarin.Menurut dia, penerapan sistem SKS tidak hanya membebani siswa dan guru tetapi juga akan merepotkan. Terutama, dilihat dari segi administrasi menyangkut jadwal pelajaran dan waktu belajar masing-masing siswa. “Dari segi administrasi, akan sangat menguras waktu. Bukannya siswa jadi mandiri, tetapi malah mengganggu pola belajarnya,”tandas Lody. Sementara itu,Koordinator Divisi Monitoring Pelayanan Publik Indonesia Coruption Watch (ICW) Ade Irawan menyatakan,sejak awal pihaknya menentang kastanisasi sekolah seperti adanya sekolah yang menerapkan standar internasional dan tidak. Begitu pun dengan sistem SKS.Dia melihat,tujuan penerapan sistem ini belum jelas. “Tujuan utamanya belum jelas. Apa iya dengan sistem SKS siswa bisa belajar mandiri. Belum tentu juga. Bisa jadi, hal ini malah membebani siswa itu,” tegasnya. Selain itu,lanjut dia,kesiapan sekolah seperti guru,sarana penunjang,serta sistem penilaian juga masih patut dipertanyakan. “Pada tingkat apa diterapkan, saya pikir penerapan itu butuh waktu karena kesiapan sarana prasarana dan guru saat ini masih kurang,”tandasnya. Karena itu,Ade mengingatkan agar pemerintah jangan hanya memandang sekolah sebagai tempat mengembangkan kemampuan teknis, tetapi juga sebagai wahana bagi anak untuk berinteraksi serta mendapatkan pengetahuan secara holistis. Sebelumnya diberitakan, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) akan mewajibkan penerapan SKS bagi sekolah mandiri dan berstandar internasional. Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dirjen Mandikdasmen) Depdiknas Suyanto mengatakan, kebijakan ini telah tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. PP tersebut menyebutkan bahwa sekolah kategori mandiri harus menerapkan sistem pembelajaran dalam SKS.Sistem ini adalah salah satu sistem penerapan program pendidikan yang menempatkan peserta didik sebagai subjek.Pembelajaran berpusat pada peserta didik, yaitu bagaimana peserta didik dapat belajar. Dengan sistem ini,peserta didik diberi kebebasan untuk merencanakan kegiatan belajarnya sesuai dengan minat, kemampuan,dan harapan masingmasing. Sementara itu, dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi menyatakan, SKS adalah sistem penyelenggaraan program pendidikan yang peserta didiknya menentukan sendiri beban belajar dan mata pelajaran yang diikuti setiap semester pada satuan pendidikan. Mengacu pada konsep tersebut, SKS dapat diterapkan untuk menunjang realisasi belajar tuntas yang digunakan dalam menerapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP).Pada SKS,setiap 1 SKS berbobot dua jam kegiatan pembelajaran per minggu, selama 16 minggu per semester. Penerapan SKS, kata Suyanto, tergantung kesiapan sekolah itu sendiri. (rendra hanggara)


Berfikir Maju Untuk Tumbuh

Oktober 13, 2009

 

Diambil dari : SINDO, 11 Oktober 2009

Dampak krisis global terhadap pertumbuhan ekonomi secara jangka pendek menjadi tidak menentu. Sehingga pembuat kebijakan harus mampu melampaui masalah ini untuk meraih peluang tumbuh di masa depan.

 

Laporan Global Risk Network Risk dari World Economic Forum (WEF) yang berjudul “Global Growth a Risk”,mengungkapkan bahwa para pemimpin negara-negara di dunia harus mampu melihat melampaui masalah yang ditimbulkan dari dampak krisis global.Riset itu menemukan bahwa dunia akan semakin terbagi saat ini.Yakni antara sebagian negara yang mampu mencatatkan pertumbuhannya,sementara yang lainnya mengalami penurunan kinerja perekonomiannya.

Director and Head of Global Risks Network WEF Sheana Tambourgi menyatakan dibalik prediksi perekonomian yang disampaikan oleh International Monetary Funda (IMF) tentang penurunan pertumbuhan global, menyimpan banyak kisah sukses. China, India, dan Rusia serta beberapa negara Teluk akan tetap mencatatkan pertumbuhan pada 2009 ini. Dibalik perekonomian global yang negatif saat ini, ada banyak bukti tentang pemain-pemain baru dalam perekonomian dunia yang akan sangat berperan dalam pertumbuhan global.

“Juara-juara baru ini akan secara signifikan memaikan perananya di ekonomi dunia, dan siapa yang tetap berada pada posisi yang kuat akan mendapatkan manfaat dari pertumbuhan dunia di masa mendatang,”ujarnya. Sementara dalam level industri, sektor energi,makanan,telekomunikasi, dan sektor jasa semuanya masih akan menunjukkan kinerjanya yang kuat. Para pemimpin perusahaan dari sektor ini,memiliki pendapat yang sama.Yakni, mereka mengakui bahwa kondisi perekonomian memang sedang tidak menentu.Namun pasar baru sedang terbuka dan peluang ini harus diambil.

Kondisi krisis telah mengakibatkan akses terhadap permodalan menjadi lebih sulit,namun yang pasti tidak akan ada kekurangan permodalan secara global. Berdasarkan catatan Institute of International Finance, Negara-negara Teluk telah menambahkan investasi sebesar USD215 miliar untuk pasar modal mereka pada tahun 2007.Total aset mereka termasuk bank sentral, diestimasikan sebesar USD1,8 triliun,yang diperkirakan akan meningkat menjadi USD2,4 triliun.

“Pertanyaannya adalah siapa yang akan mengambil keuntungan dari situasi saat ini,”ungkap Tambourgi. Melihat kedepan,akan ada tiga tren sedang muncul dan berpengarug terhadap prospek pertumbuhan masa depan perusahaan, negara, dan dunia. Menurut Tambourgi, pertama adalah negaranegara baru yang memiliki pertumbuhan cepat dengan jumlah penduduk besar dan meningkatnya jumlah masyarakat kelas menengah dengan China dan India yang beperan.

Kedua, terkait dengan meningkatnya permintaan dan kompetisi internasional dalam hal mendapatkan permodalan, energi,konsumsi dan skill akan tumbuh secara berkelanjutan. Ketiga, pentingnya pert-umbuhan diletakkan pada inovasi dan teknologi sebagai sumber solusi untuk mengatasi masalah global. Tiga tren tersebut akan menjadi tantangan namun juga menawarkan kesempatan baik bagi kalangan bisnis dan masyarakat yang telah menempatkan diri mereka secara tepat.

Salah satu dari tantangan dan peluang terbesar dalam tiga tren tersebut akan terjadi secara berkelanjutan. Kependudukan dan ekonomi akan berubah dan mengambil tempat di negara-negara sehingga mewakili peluang pertumbuhan. Juga akan terjadi peningkatan permintaan tidak hanya terhadap sumber daya energi dan air, namun juga pada permodalan dan manusia trampil.Secara jelas,perusahaan- perusahaan akan bersaing ketat di dunia internasional atas sumber daya tersebut.

Namun struktur mereka,ukuran dan lokasi akan bekerja sesuai dengan konteks mereka. Kebanyakan perusahaan dijalankan dalam situasi ekonnomi dinamis dan kebanykan dikelola secara swasta.Umumnya ditangani oleh pemilik atau pendirinya sendiri, yang akan mendorong mereka untuk ulet dalam antusiasme dan fokus pada pertumbuhan. Untuk beberapa negara, mereka akan mengalami kekurangan bukti tentang pasar modal yang dominan berarti sektor industri swasta mereka lebih terbuka terhadap permodalan swasta.

Ketika ingin memiliki kinerja menarik,diantaranya, yang merupakan bagian dari dua faktor mungkin akan berguna bagi perusahaan kecil. Sementara angka moderat Unnika Aramaja untuk brai drain yang merupakan efek dari terumbuhan adalah meningkatnya kegiatan kewirausahaan dalam banyak pasar dan sektor. Dalam dua dekade terakhir juga ditunjukkan bahwa kewirausahaan akibat aktifitas tumbuh di negara-negara yang awalnya mereka seharusnya ke luar negeri dan tertangan.

Meskipun ketidakmentuan global berperngaruh pada tren global dan resiko sehingga digantikan yang biasanya. Bagaimanapun, analisis isu global tidak hanya membantu strategi untuk risiko dan stidaknya akan membantu para pemimpin di dunia,untuk mengidentifikasi peluang bisnis baru dalam waktu dekat.Lebih penting adalah skala di tengah risiko global bukan oleh kalagan bisnis maupun pemerintah. Sebagaimana mereka menumbuhkan bisnis mereka, para pemimpin harus secara aktif untuk memperluas jaringan komunitas bisnis, pada level lokal dan internasional guna menjelajahi solusi baru.

“Kesimpulannya bahwa pemerintah dan sektor ekonomi yang mampu melewati kondisi saat ini, harus siap untuk melihat ke depan, dan menjelajahi gelombang baru masa depan yang akan datang. Jika perusahaan bisa mengkombinasikan kekuatan mereka dan pengetahuan tentang pasar dengan pemahaman tentang tren dan risiko global,serta bagaimana mereka selamat dan bisa memulai persiapan untuk masa depan, ketimbang hanya menunggu atas apa yang akan terjadi,”tambah Tambourgi. (abdul malik/islahuddin)

Indeks Daya Saing
1. Belanda : 5, 32
2.Jerman : 5, 37
3. Swiss : 5, 6
4. Swedia : 5, 51
5. Finlandia : 5, 43
6. Singapura : 5, 55
7. Indonesia : 4, 26
8. Jepang : 5, 37
9. Amerika Serikat : 5, 59
10. Kanada : 5, 33
11. Denmark : 5, 46
sumber : world economic forum, 2009

Menuju SDM Indonesia Berkualitas

Oktober 12, 2009
SINDO : Friday, 09 October 2009
Kualitas manusia Indonesia yang tercermin dari hasil Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2009 mengalami peningkatan,tetapi masih lebih rendah dibanding negara lain.

DEMIKIANinti dari Laporan Pembangunan Manusia 2009 yang dikeluarkan United Nations Development Programme (UNDP) di Jakarta, Senin (5/10). Dalam laporan tersebut, angka IPM Indonesia Indonesia naik tipis dari 0,728 tahun 2007 menjadi 0,734 pada 2009. Penghitungan IPM yang digunakan UNDP mengacu pada empat indikator utama yaitu Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita, tingkat partisipasi sekolah (school enrolment),angka harapan hidup (life expectancy), dan angka melek huruf (literacy).

Indikator yang digunakan UNDP berlaku universal dengan asumsi bahwa hal-hal tersebut merupakan kebutuhan dasar (basic needs) manusia yang harus dipenuhi. Di Indonesia, indikator IPM yang dirumuskan Badan Pusat Statistik (BPS) tidak jauh berbeda dengan perumusan yang dipakai UNDP. Perbedaannya ialah pada indikator pengeluaran per kapita (konsumsi), bukan PDB per kapita (produktivitas). Istilah IPM itu sendiri dipopulerkan pada 1990 oleh penerima nobel ekonomi asal India Amartya Sen dan ekonom Pakistan Mahbub ul Haq.

Mereka mengkritik paradigma ekonomi saat itu yang cenderung mengukur tingkat kesejahteraan hanya berdasarkan indikator pendapatan per kapita.Kenyataannya, banyak negara berkembang yang tingkat pendapatannya meningkat ternyata masih dililit oleh kemiskinan. Sen dan ul Haq kemudian menawarkan alternatif dengan menambahkan indikator angka melek huruf, tingkat partisipasi sekolah dan angka harapan hidup, karena dinilai lebih sensitif terhadap kehidupan riil penduduk miskin.

Gagasan itu kemudian dipopulerkan PBB dengan nama Human Development Index (HDI) dan dirumuskan dalam bentuk laporan tahunan Human Development Reportoleh UNDP. Dalam laporan UNDP, IPM Indonesia menempati peringkat ke- 111 dari 192 negara.Kendati naik tipis, peringkat itu sebenarnya turun dibanding tahun sebelumnya. Pada 2008, peringkat IPM Indonesia bersanding di ranking 107. Hal itu kemungkinan disebabkan banyaknya negara-negara yang semula di bawah Indonesia, berhasil meningkatkan IPM mereka secara signifikan.

Sehingga, kenaikan dari 0,728 ke 0,734 menjadi terasa kurang bermakna. Indonesia harus mengakui bahwa kualitas SDM Indonesia masih kalah dibanding negara-negara tetangga (lihat grafis). Peringkat IPM Indonesia lebih rendah dari Malaysia dan Thailand yang masing- masing berada di ranking 66 dan 87.

Indonesia bahkan masih kalah tipis dibanding Filipina (105), apalagi jika dibanding negara maju Singapura (23). Posisi Indonesia hanya sedikit lebih baik dibanding Laos atau Kamboja. Hal tersebut jelas membuat kita miris. Sebab, negara-negara yang semula di bawah Indonesia kini sudah jauh di atas. Mengapa IPM kita masih tertinggal dari negara-negara lain?

Pemerintah Belum Optimal

Peringkat IPM yang masih belum memuaskan menunjukkan bahwa pemerintah belum optimal dalam meningkatkan kualitas manusia Indonesia. Hal itu sekaligus menunjukkan bahwa efek program- program pemerintah seperti pendidikan murah, kesehatan murah, serta peningkatan kapasitas ekonomi rakyat belum dapat dirasakan sepenuhnya oleh masyarakat.

Memang, dari aspek pendidikan, tingkat partisipasi sekolah dan angka melek huruf menunjukkan kecenderungan positif setiap tahunnya. Menurut data BPS,hampir sebagian besar anak-anak usia 7-12 tahun pernah mengenyam pendidikan dasar.Sejak 2004,jumlah itu selalu di atas 96% setiap tahunnya. Hal yang sama juga dialami sebagian besar anak-anak berusia 13-15 tahun di mana 84% di antara mereka pernah menduduki bangku sekolah menengah. Namun, hal yang sama tidak terjadi pada remaja usia 16-18 tahun.

Tidak semua golongan ini mampu melanjutkan partisipasi pendidikan ke jenjang menengah atas, terlebih ke perguruan tinggi. Tercatat, hanya lebih dari separuh remaja usia 16-18 yang melanjutkan ke jenjang SMA (54%). Persoalan ini harus mendapatkan perhatian serius dari pemerintah yang saat ini gencar mendengungkan program pendidikan dasar 12 tahun. Kelompok usia SMA ini menentukan karena kelompok ini akan masuk ke bursa tenaga kerja.

Dari aspek kesehatan, harus diakui bahwa aksesabilitas masyarakat terhadap lembaga kesehatan cenderung meningkat. Hal ini kemudian berpengaruh terhadap naiknya angka harapan hidup manusia Indonesia setiap tahun (lihat grafis).Meski demikian,di beberapa daerah masih terdapat keluhan mengenai mahalnya biaya kesehatan dan obat-obatan.Tidak meratanya infrastruktur kesehatan serta minimnya tenaga medis di berbagai daerah, terutama di daerah terpencil, juga masih menjadi ganjalan.

Berdasarkan indikator kapasitas ekonomi yang diukur berdasarkan PDB per kapita, produktivitas dan daya beli masyarakat cenderung rendah dibandingkan negara tetangga.Data BPS menunjukkan, selama lima tahun belakangan PDB per kapita naik cukup signifikan dari Rp9,3 juta pada 2003 menjadi Rp17,5 juta atau senilai USD1.845 pada 2007.Tetapi, jumlah itu masih kalah dibanding Malaysia dan Thailand yang memiliki PDB per kapita masing-masing USD7.509 dan USD3.776 pada tahun yang sama (lihat grafis).

Team Leader of Governance Unit UNDP Rizal Malik mengatakan, rendahnya IPM Indonesia disebabkan kurang proporsionalnya alokasi anggaran pemerintah untuk kesejahteraan rakyat. Selama ini,anggaran lebih banyak dihabiskan untuk belanja pegawai ketimbang pelayanan publik.“Porsi untuk pembangunan pendidikan dan kesehatan masih rendah.Anggaran pendidikan yang baru-baru ini dinaikkan menjadi 20% pun alokasinya saya yakin lebih banyak untuk gaji pegawai,”ujarnya. Sebagai gambaran, total belanjapemerintahdibidangpendidikan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN) 2008 tercatat sebesar Rp64 triliun.

Dari jumlah itu, sekitar Rp13,7 triliun habis untuk belanja pegawai.Pada 2009, jumlah belanja pegawai meningkat menjadi Rp14,8 triliun dari pagu anggaran yang disediakan sebesar Rp88,2 triliun. Begitu pula dengan anggaran belanja pegawai di bidang kesehatan yang meningkat dari Rp1,1 triliun pada 2008 menjadi Rp2,1 triliun pada 2009. Berbagai permasalahan yang terkait kualitas pembangunan manusia tentunya menjadi pekerjaan rumah pemerintahan terpilih khususnya kabinet yang menangani bidang kesejahteraan rakyat.

Untuk meningkatkan kualitas SDM di Tanah Air,salahsatucarayangdapat ditempuh antara lain dengan membuka akses seluas-luasnya bagi masyarakat untuk mendapatkan pendidikan dan kesehatan murah. Selain itu, pemerintah perlu mendorong program-program yang bertujuan meningkatkan kapasitas ekonomi rakyat melalui program pemberdayaan masyarakat yang berkesinambungan dan sinergis.

Tidak lupa, dalam konteks otonomi daerah, peran pemerintah daerah juga dituntut aktif dalam mengembangkan IPM di daerah masing-masing. Mimpi menjadi bangsa yang besar tidak mungkin dapat dicapai tanpa diperkuat kualitas SDM yang mumpuni. (m azhar/litbang SI)


Wow… Peringkat Dunia UGM Naik!

Oktober 12, 2009
Ilustrasi: Pihak UGM belum mengetahui faktor yang meningkatkan peringkat itu. Salah satu dugaan adalah meningkatnya kerja sama dan konferensi internasional UGM selama setahun terakhir.

Senin, 12 Oktober 2009 | 09:22 WIB

Laporan wartawan KOMPAS Irene Sarwindaningrum

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Peringkat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, naik dalam daftar perguruan tinggi terbaik tingkat dunia menurut The Times Higher Education-QS World University (The-QS World University) .

UGM, yang tahun lalu berada di peringkat ke-316, berhasil menduduki peringkat ke-250 pada tahun ini. Adapun Universitas Indonesia berada di peringkat ke-201 atau naik dari peringkat ke-287 pada tahun lalu.

Perguruan tinggi lain di Indonesia yang tercatat dalam daftar 500 besar perguruan tinggi terbaik dunia The-QS World University itu adalah Institut Teknologi Bandung. Namun, peringkatnya justru menurun dari ke-315 pada tahun lalu menjadi ke-351 pada tahun ini. Berada dalam urutan tiga besar, daftar yang diprakarsai oleh harian Inggris, The Times, ini adalah Harvard University (Amerika Serikat), University of Cambridge (Inggris), dan Yale University (Amerika Serikat).

Kepala Bidang Humas dan Keprotokolan UGM Suryo Baskoro mengatakan, pengumuman peringkat tersebut diterima pada Jumat (9/10). Kajian peringkat The-QS World University itu meliputi enam kriteria, yaitu kajian oleh kelompok bidang ilmu, kajian oleh pengguna lulusan, sitasi dosen, jumlah pengajar internasional, jumlah mahasiswa internasional, dan rasio dosen dengan mahasiswa.

Wakil Rektor Senior Bidang Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian pada Masyarakat UGM Retno Sunarminingsih Sudibyo mengatakan, peringkat dunia bukanlah tujuan yang ingin dicapai UGM. ”Komitmen kami lebih pada percepatan peningkatan kualitas pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Peringkat hanya pengakuan,” katanya di Yogyakarta, Minggu.

Retno mengatakan, pihaknya belum mengetahui faktor yang meningkatkan peringkat itu. Salah satu dugaan adalah meningkatnya kerja sama dan konferensi internasional UGM selama setahun terakhir.

Usaha untuk meningkatkan kerja sama dengan pihak luar negeri ini telah dimulai sejak UGM mencanangkan diri sebagai perguruan tinggi riset kelas dunia pada awal 2008. Untuk tujuan itu, UGM menganggarkan dana sebesar Rp 43 miliar pada 2008. Pada 2009 ini jumlahnya meningkat menjadi sekitar Rp 77 miliar.

Saat ini perguruan tinggi berusia 60 tahun tersebut telah menjalin kerja sama dengan 340 perguruan tinggi atau lembaga dari luar negeri dan memiliki 900 mahasiswa asing yang berasal dari 54 negara.

Retno mengatakan, UGM juga meningkatkan penelitian serta kajian di bidang kearifan dan potensi lokal, seperti budaya, kesenian, flora, fauna, dan penyakit tropis. Hal ini karena kearifan dan potensi lokal itu dinilai sebagai keunikan yang tidak dimiliki negara lain.


UI Peringkat 201 Universitas Dunia

Oktober 9, 2009

SINDO : Thursday, 08 October 2009 JAKARTA(SI) – Peringkat perguruan tinggi negeri (PTN) Indonesia terus menanjak.Universitas Indonesia berhasil masuk jajaran 201 besar kampus terbaik di dunia. Dalam laporan terbaru lembaga pemeringkat perguruan tinggi Times Higher Education-QS World University Ranking (THE-QS World),Universitas Indonesia (UI) mengalahkan beberapa universitas terkenal di Filipina,Malaysia, dan Vietnam. Peringkat ini naik dari urutan 287 pada 2008 dan urutan 395 pada 2007. THE-QS World melakukan pemeringkatan 500 universitas terbaik di dunia dari 5.000 perguruan tinggi yang disurvei di seluruh dunia.Adapun indikator peringkat tersebut adalah unjuk kerja riset dan publikasi, unjuk kerja pengajaran, internasionalisasi, unjuk kerja keterserapan lulusan di dunia kerja,dan tata kelola. Rektor UI Gumilar Rusliwa Soemantri mengatakan,peringkat tersebut diraih UI atas prestasi mahasiswa dan di bidang riset. UI, kata dia, sampai Oktober 2009 telah menjuarai 17 kejuaraan tingkat dunia mulai dari paduan suara, kontes debat sampai olimpiade matematika tingkat dunia. ”Publikasi UI pada tahun ini hampir mencapai 10.000 buku publikasi,” katanya seusai meresmikan perluasan Perpustakaan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) di Gedung Depdiknas Jakarta kemarin. Gumilar menambahkan, hal lain yang membuat peringkat UI mencuat adalah internasionalisasi dan tata kelola menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Dia menyebutkan, selain menempati peringkat 201 dunia, UI juga menempati urutan 102 di bidang ilmu sosial dan urutan 104 di bidang seni dan humaniora. UI juga menempati peringkat 34 Asia, naik dari Peringkat 50 pada 2008, sedangkan di tingkat ASEAN UI menempati ranking lima. Peringkat pertama sampai denganlimauniversitasdi ASEANberturut- turut adalah National University of Singapore (NUS), Nanyang Technological University Singapore, Chulalongkorn University Thailand,University of Malaya Malaysia, dan Universitas Indonesia. Kepala Humas dan protokol UI, Visnu Juwono menambahkan,prestasi ini tidak lepas dari kerja keras bangsa Indonesia, baik pemerintah, pelaku industri maupun seluruh warga civitas academica UI. Pencapaian dalam peringkat universitas dunia ini sejalan dengan mahasiswa UI meraih prestasi gemilang di berbagai momen kompetisi internasional. Sementara dalam bidang riset dan pengajaran, UI terus-menerus melakukan pembenahan baik dalam hal kuantitas maupun kualitas selama satu tahun terakhir. ”Jumlah peneliti di UI sendiri meningkat menjadi 1.005 peneliti pada 2009 dari 937 penelitidi tahun 2008,”imbuhnya. Sebelumnya,Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Depdiknas Fasli Jalal mengatakan, perguruan tinggi Indonesia punya potensi besar menuju ke kelas dunia. Hanya saja,lanjut dia,masih butuh pemerataan mutu dan penataan yang baik. ”Saat ini pun kami sedang mendata perguruan tinggi yang berpotensi dikembangkan menjadi world class (kelas dunia). Dari sekitar 2.800 PT di Indonesia, sudah ada sekitar 10 PT yang perlu dipacu,” katanya. Untuk itu pemerintah,kata dia, telah menyediakan dana sekitar Rp20-30 miliar bagi PT yang berpotensi berkelas dunia.Adapun bagi PTNyangsudahmasuk400besardunia, pemerintah juga memberi dana pengembangan yang lebih besar. ”Pastinya lebih besar dari itu (Rp20–30 miliar),tergantung pada kebutuhan universitas. Yang jelas pemerintah menyediakan dana khusus dan perguruan tinggi bisa mengajukan proposal dana yang mereka butuhkan,”jelas Fasli. Dalam pemeringkatan ini, universitas di Inggris dan Amerika Serikat (AS) masih mendominasi 17 universitas terbaik dunia. Harvard University,AS, di urutan pertama. University of Cambridge, Inggris, di urutan kedua.Yale University peringkat ketiga. University College London berhasil menyabet peringkat, di atas University of Oxford yang harus rela di urutan 5, sama dengan Imperial College London. Direktur Manajer QS Nunzio Quacquarelli, mengatakan, pemerintah dan universitas di penjuru dunia ramai-ramai berinvestasi untuk meningkatkan citra dan pengakuan di pentas internasional. Sebab, pendidikan tinggi telah menjadi industri global. Menurut Quacquarelli, saat ini peringkat universitas digunakan para pengusaha mengidentifikasi calon tenaga kerja, pengajar, atau membentuk kemitraan.Peringkat ini juga menjadi acuan orangtua dan pelajar untuk mencari lembaga pendidikan bermutu. (rendra hanggara/ fajri hidayat/syarifuddin) SINDO


Berburu Gelar ke Negeri Matahari Terbit

Oktober 9, 2009

SINDO : Wednesday, 07 October 2009 JEPANG menjadi negara favorit bagi pelajar Indonesia dalam menuntut ilmu.Terbukti angka pelajar Indonesia di Jepang mengalami pertumbuhan setiap tahunnya. Pemerintah Jepang pun sibuk berbenah diri menyambut kedatangan para pelajar asing.Dewasa ini tidak lagi sulit bagi seseorang untuk mendapatkan informasi mengenai pendidikan di Jepang. Mulai sistem pendidikan, lembaga pendidikan yang menyelenggarakan kursus bahasa Jepang hingga program doktor, informasi beasiswa sampai prosedur belajar ke negeri ini, seluruh informasi itu sudah tersedia. Negara pencipta teknologi mutakhir tersebut juga semakin terekspos lewat berbagai pameran maupun seminar pendidikan yang makin giat diadakan. Bulan Agustus lalu misalnya, sebuah sekolah bahasa Jepang yang berlokasi di Bali,Pandan College, mengadakan pameran sekaligus seminar pendidikan Jepang dengan mendatangkan belasan sekolah bahasa Jepang yang ada di negara tersebut. Minggu lalu giliran Japan Student Services Oranization (JASSO) dan PERSADA Indonesia (Perhimpunan alumni dari Jepang) yang menyelenggarakan pameran pendidikan di Jakarta dan Surabaya sebagai bagian dari rangkaian Jak-Japan Matsuri. Tercatat sebanyak 31 institusi pendidikan yang berpartisipasi dalam acara ini, meliputi sekolah bahasa Jepang, universitas negeri dan swasta. Respons masyarakat terhadap pameran ini cukup tinggi. Mereka antusias mendatangi stan-stan yang ada untuk bertanya. Chief Department of Japanese dari College of Business and Communication Takashi Ishijima yang menjadi salah satu peserta pameran pendidikan Jepang yang diselenggarakan di Hotel Nikko pada bulan Agustus silam mengatakan Indonesia merupakan pasar potensial. ”Apalagi, remaja Indonesia relatif dekat dan menyukai kultur populer Jepang,”ujarnya. Chief Manager International Projects Department ARC Academy Yamamoto Masahiko mengungkapkan pendapat senada.Meski jumlah siswa Indonesia sekolah bahasa Jepang ini relatif minim, ia menargetkan pada tahun depan angka pelajar dari Indonesia akan meningkat. ”Karena sekarang ini sosialisasi (studi ke Jepang) makin digencarkan pemerintah,” katanya dalam pameran pendidikan Jepang yang berlangsung hari Sabtu (3/10) lalu di Jakarta. Sebab,survei membuktikan setiap tahunnya jumlah pelajar asing yang mengenyam pendidikan ke negara ini mengalami pertumbuhan yang signifikan.Tahun ini saja jumlah pelajar asing mencapai 130.000 orang,bandingkan dengan angka tahun lalu sebanyak 118.000 pelajar. Dari jumlah ini, mahasiswa Indonesia adalah sebanyak 1.800.Sementara pada tahun 2008 jumlah mahasiswa Indonesia sebesar 1.500.Ia menuturkan,para pelajar ini tidak hanya terpusat di satu daerah,juga menyebar ke berbagai daerah. Angka ini masih jauh dari yang ditargetkan pemerintah Jepang yakni sebesar 300.000 pelajar asing. Para mahasiswa Indonesia yang studi ke Jepang ini kebanyakan memilih jurusan teknik, seperti teknik informatika maupun desain komputer yang jumlahnya mencapai 549 mahasiswa.Menyusul ilmu sosial di peringkat kedua dan humaniora di posisi ketiga sebagai bidang studi yang paling diminati. Mereka yang mengambil kedokteran, kedokteran gigi, farmokologi, dan pertanian juga cukup banyak jumlahnya. Menurut Ken Noguchi selaku Kepala Bagian Pendidikan Kedutaan Besar Jepang untuk Indonesia, kebudayaan Jepang,seperti bahasa dan seni animasi sebenarnya juga banyak diminati pelajar internasional. Namun sayang, belum banyak universitas yang mengadakan jurusan tersebut. ”Karenanya, jika menggemari budaya Jepang seperti anime atau manga, pelajar harus mengikuti kursus sendiri,”ucapnya. Ritsumeikan Asia Pacific University merupakan perguruan tinggi yang banyak menyedot pelajar dari Indonesia. Universitas yang berada di Oita ini menawarkan beberapa kelebihan. Di antaranya, sistem pendidikan dua bahasa (Inggris dan Jepang) yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menguasai kedua bahasa itu. Juga ada lingkungan yang multikultural, baik pada sisi mahasiswa maupun pengajarnya. Selain itu, universitas tersebut juga tidak mensyaratkan penguasaan bahasa Jepang pada waktu pendaftaran. Ditambah lagi, perguruan tinggi tersebut juga memiliki penempatan tenaga kerja di atas 95% dalam tiga tahun terakhir dan menawarkan beasiswa berupa pengurangan biaya kuliah mulai 30%-100%. Universitas lain yang juga menjadi destinasi pelajar di antaranya University of Tokyo, Kyushu University, Tokyo Institute of Technology, dan Osaka University.Di sana, para pelajar asing diperlakukan bak tamu agung dan disambut dengan tangan terbuka oleh pemerintah. Pemerintah Jepang menerapkan berbagai kebijakan mengenai penerimaan pelajar internasional tersebut. Sebut saja membangun asrama untuk pelajar asing,memberikan izin kerja paruh waktu 28 jam per minggu, meniadakan persyaratan penjamin dalam pengajuan visa.Namun demikian, pelajar asing ini diwajibkan mengambil Examination for Japanese University Admission (EJU). Ke depan, pemerintah akan mengambil langkah lain. Seperti memperkuat pelayanan informasi tentang studi ke Jepang, mempermudah prosedur belajar ke Jepang, memperbaiki sistem universitas di Jepang.Di antaranya memperbanyak kuliah dalam bahasa Inggris, memperbaiki lingkungan penerima pelajar asing lewat membangun asrama, serta meningkatkan dukungan untuk mendapat kerja di Jepang. Noguchi mengatakan, untuk membantu mahasiswa internasional agar bisa menguasai bahasa dan kebudayaan Jepang, pemerintah Jepang menjalin kerja sama dengan pihak swasta membangun lembaga budaya Jepang. ”Saat ini sekitar 600 lembaga budaya Jepang sudah tersebar di seluruh daerah,”ucap Noguchi. (sri noviarni)


Twitter dan Facebook Diserang

Agustus 11, 2009

Republika : Senin, 10 Agustus 2009 pukul 01:59:00

Twitter merupakan target yang mudah bagi para hacker. SAN FRANCISCO — Situs jejaring sosial, Twitter dan Facebook diserang. Pada Kamis (6/8), kedua situs ini mengalami gangguan layanan akibat diserang hacker yang disebut Denial of Service (DoS). Serangan DoS membuat para pecinta Twitter dan Facebook untuk sejenak tak bisa mengakses kedua situs tersebut. Serangan ini kemudian memicu spekulasi adanya kampanye terencana menentang situs ini. Serangan terjadi sebulan setelah situs Gedung Putih diserang. Selain itu, insiden ini juga menegaskan bahwa situs jejaring sosial sangat rentan diserang. Sebab, situs semacam ini tak hanya sarana untuk saling berinteraksi bagi manusia sejagat, tetapi juga telah digunakan sebagai alat perlawanan politik. Biz Stone, salah satu pendiri Twitter, Kamis, menyatakan, pihaknya tak mau berspekulasi mengenai motivasi serangan yang membuat situs tersebut offline dan tak bisa diakses selama beberapa jam pada hari serangan terjadi. ”Twitter dan beberapa perusahaan dan situs layanan yang terpengaruh oleh serangan ini melihat bahwa hal itu merupakan serangan masif yang terkoordinasi,” kata Stone. Seperti Twitter, Facebook juga menyimpulkan bahwa ini merupakan serangan DoS. Saat akses Twitter pulih kembali, banyak pengguna kedua situs itu menyampaikan keluhannya mengenai gangguan akses yang mereka alami. ”Sekarang saya tahu, saya kecanduan Twitter. Saya tak menjalani ritual harian di Twitter,” kata seorang pengguna Twitter. Selain Twitter dan Facebook, dikabarkan Google juga mengalami serangan yang sama. Demikian pula dengan LiveJournal. Dalam pernyataannya di surat elektronik, Google menyatakan, mereka melakukan kontak dengan situs lainnya untuk membantu penyelidikan. Pakar keamanan mengungkapkan, motif serangan DoS bisa politis hingga pemerasan. Ancaman terhadap situs ternama yang dilakukan sejumlah kelompok kriminal kini juga mengalami peningkatan. Mereka bertujuan meraup uang. Menurut mereka, kelompok tunggal bisa jadi berada di balik serangan yang terjadi pada Twitter, Facebook, dan situs lainnya. Di sisi lain, para hacker juga mengembangkan kemampuan mereka untuk menyerang sejumlah situs dalam satu kali serangan. ”Sejarah akan mengungkapkan kepada kita kemungkinan penyerang atau kelompok penyerang yang sama melakukan kedua serangan seperti itu,” ujar Kevin Prince, seorang kepala teknologi pada penyedia layanan keamanan, Perimeter Security. Prince menambahkan, ada sejumlah cara yang bisa dilakukan untuk melindungi diri dari serangan DoS, namun mahal. Sementara itu, Robert Scobble, seorang komentator industri teknologi, menyatakan, ini hanyalah sebuah gangguan. ”Ingat, ini juga dialami Twitter pada 2007 dan 2008,” kata Scobble. Ia merujuk pada periode di mana bertambahnya lalu lintas di Twitter membuat layanan mereka terganggu. Pada Juli lalu, gelombang serangan serupa telah mengganggu akses sejumlah situs populer di AS dan Korea Selatan (Korsel), termasuk situs Gedung Putih. Badan intelijen Korsel bahkan telah mengarahkan telunjuknya pada Korut yang ada di balik serangan itu. Menurut Steve Gibson, presiden Gibson Research Corp, sebuah perusahaan riset keamanan internet, Twitter merupakan sebuah target yang mudah bagi para hacker. Hingga Juni, pengunjung Twitter telah mencapai 44,5 juta orang. reuters/ferry kisihandi


Langganan Internet, Guru dan Dosen Dapat Diskon

Juli 15, 2009

Rabu, 15 Juli 2009 | 10:52 WIB Laporan wartawan KOMPAS Dwi Bayu Radius BANDUNG, KOMPAS.com – Telkom Divisi Regional (Divre) III Jawa Barat-Banten memberikan diskon biaya berlangganan Speedy Unlimited untuk insan pendidikan. Paket internet untuk guru, dosen, pelajar, dan mahasiswa itu diberikan hingga 15 Agustus 2009. Manager Division Communication Telkom Divre III Ernawanti di Bandung, Rabu (15/7), mengatakan, biaya berlangganan untuk guru dan dosen sebesar Rp 100.000 per bulan dari tarif normal Rp 195.000 untuk paket berlangganan Speedy Unlimited Family. Selain itu, terdapat tarif berlangganan paket Speedy Unlimited Load sebesar Rp 150.000 per bulan dari tarif normal Rp 295.000. Adapun pelajar dan mahasiswa, mendapatkan diskon tarif berlangganan sebesar 20 persen setiap bulan. Program-program tersebut berlaku selama satu tahun. Selain gratis pengaktifan Speedy, para guru dan dosen juga tak perlu dipusingkan dengan pembelian modem karena dipinjamkan Telkom. Sementara, pelajar dan mahasiswa akan mendapat kan harga khusus untuk modem.


Indonesia Jadi Pusat Pelatihan Guru se-ASEAN

Juli 15, 2009

Senin, 13 Juli 2009 | 20:57 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Indonesia ikut berperan dalam upaya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan di kawasan Asia Tenggara lewat pendirian pusat regional SEAMEO di bidang Matematika, Bahasa, dan Sains. Selain menawarkan pendidikan dan pelatihan bagi pendidik dan tenaga kependidikan Indonesia dan negara-negara ASEAN, juga dilakukan penelitian dan pengembangan, diseminasi informasi aktual, analisis kebijakan, dan evaluasi.

Peluncuran pusat pelatihan yang dinamakan South East Asia Ministry of Education (SEAMEO) Regional Center for Quality Improvement of Teachers and Education Personenel (QITEP) in Science, Mathematics, and Languages di Indonesia itu dilakukan di Jakarta, Senin (13/7) oleh Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo. Hadir pula sejumlah perwakilan SEAMEO dari negara-negara ASEAN.

SEAMEO merupakan organisasi menteri pendidikan ASEAN yang secara aklamasi telah menyetujui pendirian tiga pusat pelatihan guru yang berada di Indonesia. Di Asia Tenggara saat ini tercatat 5.027.305 guru dan 342 ribu kepala sekolah.

Menurut Bambang, program-program yang dilaksanakan di tiga pusat pelatihan guru itu berdasarkan kebutuhan pasar Asia Tenggara hingga lima tahun ke depan. “Bagi Indonesia, ini kesempatan untuk mengembangkan kelembagaan dan diklat bertaraf internasional,” kata Bambang.

Persiapan untuk meluncurkan ketiga pusat diklat bertaraf internasional itu membutuhkan waktu dua tahun. Hingga saat ini ada 16 SEAMEO QITEP.

Ada lima jenis program dan kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan mutu guru dan kepala sekolah yakni lewat analisis kebutuhan pelatihan; penguatan kapasistas bidang sumber daya manusia, fasilitas, dan sistem manajemen; training dan pendidikan internal, penelitian, serta pengawasan dan evaluasi.


Seminar International Pendidikan Jepang

Juni 29, 2009

Guna menyebarluaskan informasi pendidikan Jepang lebih luas lagi di tengah
masyarakat Indonesia, dalam bahasa Indonesia, Seminar Internasional pendidikan
Jepang akan diselenggarakan pada;

Hari Sabtu, 29 Agustus 2009
Nikko Hotel, Grand Diamond Ballroom,
Jl. MH Thamrin, Jakarta Pusat
Waktu jam 09.00-11.30
Dilanjutkan Pameran Pendidikan Jepang

Dihadiri 16 Sekolah asal dari Jepang

Pembicara:
Ken Noguchi. Atase Pendidikan Jepang,
Kedutaan Besar Jepang di Indonesia

Nara Sumber:
Atsushi Kanai, Kepala The Japan Foundation
Indonesia

Moderator:
Richard Susilo, Komisaris Pandan College
Indonesia

Seminar dan Pameran Pendidikan Jepang ini TIDAK dipungut biaya apa pun. Meskipun
demikian harus mendaftar terlebih dulu lewat web http://gakko. us/ atau kirimkan
email ke: info@gakko.us (Subject: Pendidikan Jepang)

Pendaftaran diharapkan sebelum 4 Juli 2009.

Informasi lengkap dapat ditanyakan ke:
Pandan College
0361-255-225

Terima kasih
.