Dana RSBI Akan Dievaluasi

April 30, 2010

Jumat, 30 April 2010 | 04:46 WIB

Jakarta, Kompas – Pemerintah akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap dana bantuan langsung atau block grant yang telah diberikan kepada rintisan sekolah bertaraf internasional atau RSBI. Kucuran dana telah dilakukan sejak lima tahun lalu.

Hingga tahun 2009, Kementerian Pendidikan Nasional telah memberikan kucuran dana kepada 320 SMA, 118 SMK, 300 SMP, dan 136 SD yang tersebar di 481 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

”Akan ada evaluasi pada tahun 2010/2011 karena pemberian dana bantuan untuk SMP memang selama empat tahun dan SMA lima tahun,” kata Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh, Kamis (29/4) di Jakarta.

Untuk tingkat SMP, dana bantuan setiap sekolah Rp 400 juta pada tahun 2007 dan Rp 300 juta untuk setiap sekolah pada tahun 2008-2010. Sementara itu, untuk tingkat SMA, dana bantuan yang diberikan Rp 300 juta setiap tahunnya dari tahun 2006 hingga 2008. Untuk tahun 2009-2010, dana yang diberikan Rp 300 juta-Rp 600 juta per tahun untuk setiap sekolah.

Bisa kembali ke reguler

Menurut Mendiknas, evaluasi RSBI itu akan dilakukan secara menyeluruh dan melihat apakah semua ketentuan telah dipenuhi. ”Apabila, misalnya, RSBI itu tidak mencapai target yang telah ditentukan, sangat mungkin RSBI itu dikembalikan statusnya menjadi sekolah reguler. Sebaliknya, jika telah terpenuhi, statusnya akan langsung berubah menjadi sekolah bertaraf internasional (SBI),” kata Nuh.

Apabila sekolah itu berubah status menjadi SBI, dana bantuan otomatis dihentikan. Pertimbangannya, sekolah diharapkan bisa membiayai sendiri setelah selama 4 dan 5 tahun mendapatkan bantuan untuk membangun infrastruktur dan fasilitas belajar mengajar lain yang dibutuhkan.

Nuh mengingatkan, RSBI dan SBI harus memenuhi empat komponen, yaitu infrastruktur yang memadai, memiliki guru yang berkualitas, kurikulum sesuai dengan pembelajaran, dan manajemen yang baik.

”Ada syarat menjadi SBI, kualitasnya harus minimal di atas rata-rata standar nasional. Jika tidak, berarti SBI itu hanya jualan nama. SBI harus memiliki sister school dengan sekolah yang ada di luar negeri karena itu konsep dasarnya,” kata Nuh.

Sayangnya, kata Nuh, pengertian definisi ”internasional” kadang-kadang direduksi menjadi penggunaan kata-kata berbahasa Inggris di lingkungan sekolah atau dalam penyampaian materi pelajaran.

”Apa harus selalu memakai bahasa Inggris? Tidak. Tergantung sekolah itu mau memakai standar di negara mana. Kalau SBI-nya sekolah keagamaan, bisa pakai bahasa Arab. Atau bisa juga pakai bahasa Jepang,” ujarnya.

Yang paling penting sebenarnya jangan sampai RSBI atau SBI justru memunculkan eksklusivitas dan terkesan elite dengan hanya menerima calon siswa yang memiliki kemampuan finansial yang kuat.

Secara terpisah, Budi Susetiyo, dosen Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, yang melakukan studi pengembangan kriteria sekolah standar, mandiri, dan berstandar internasional, mengatakan, kualitas RSBI perlu dipertanyakan.

”Bagi sekolah negeri, label RSBI bisa jadi alasan untuk memungut dana lebih dari masyarakat karena butuh untuk mengembangkan sekolah,” ujar Budi. (LUK/ELN)


Kelulusan UN SMA/MA Diumumkan Hari Ini

April 26, 2010

Di Bali, Banyak Siswa Tidak Lulus Bahasa Indonesia

Senin, 26 April 2010 | 03:29 WIB

Jakarta, Kompas – Kelulusan ujian nasional untuk tingkat SMA dan madrasah aliyah akan diumumkan Senin (26/4) ini. Baik orangtua maupun guru diminta untuk memerhatikan kondisi psikologis siswa yang tidak lulus dan harus mengulang pada awal Mei mendatang.

”Tingkat stres anak sudah tinggi sejak awal sebagai akibat jadwal ujian nasional (UN) yang dimajukan. Ditambah lagi ada beberapa materi yang tidak ada di kisi-kisi soal,” ujar pengamat pendidikan Darmaningtyas, Sabtu (24/4).

Pada penyelenggaraan UN kali ini pemerintah memberikan kesempatan perbaikan bagi siswa yang tidak lulus dengan UN ulangan. Namun, menurut Darmaningtyas, mental siswa pasti sudah jatuh jika ia dinyatakan tidak lulus sehingga belum tentu hasil UN ulangan akan menjadi lebih baik dan lulus.

Sebelumnya, Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh menekankan, UN bukanlah faktor penentu kelulusan siswa, melainkan hanya pemetaan mutu pendidikan. Hasil UN diserahkan kepada sekolah untuk digabungkan dengan hasil ujian lain.

Pengamat pendidikan Arif Rahman memuji langkah pemerintah yang dianggapnya sebagai kemajuan karena UN memang bukanlah penentu kelulusan. Untuk menentukan siswa lulus atau tidak, hasil UN harus diramu terlebih dahulu dengan ujian sekolah, ujian praktik, ujian harian, akhlak mulia, dan budi pekerti.

”Yang ketuk palu lulus atau tidaknya siswa itu, ya, kepala sekolah sehingga untuk melihat persentase kelulusan, kita harus tunggu kepala sekolah,” kata Arif.

Namun, terlepas dari kemajuan itu, Arif mengingatkan rumus kelulusan UN harus dikaji ulang. Pasalnya, standar penilaian yang digunakan saat ini adalah standar mutlak. Padahal, seharusnya yang digunakan standar norma (standar penilaian yang digunakan atas pertimbangan kondisi setiap daerah yang berbeda-beda).

”UN harus memenuhi asas bermutu, berkeadilan, dan efisiensi. Sekolah-sekolah yang fasilitas kegiatan belajar-mengajar dan gurunya belum memadai seharusnya dilihat dan dipertimbangkan untuk menentukan nilai kelulusan,” kata Arif.

Menurut Nuh, dari hasil evaluasi penyelenggaraan UN, pihaknya akan melakukan intervensi kebijakan untuk memberikan penguatan-penguatan pada kabupaten/kota atau sekolah-sekolah yang memiliki siswa tidak lulus UN. Penguatan-penguatan itu, antara lain, adalah peningkatan kualitas guru hingga dukungan fasilitas kegiatan belajar-mengajar jika memang faktor itu masalahnya.

Mengejutkan

Di Daerah Istimewa Yogyakarta, tingginya siswa SMA/MA/ SMK yang tidak lulus, yakni sekitar 9.237 murid, sangat mengejutkan. Karena jumlah ini meningkat drastis dibandingkan tahun 2009, yang hanya 1.825 siswa.

Berdasarkan evaluasi Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Daerah DIY, persentase ketidaklulusan tertinggi terdapat pada jurusan IPS SMA, yaitu 30,24 persen atau 3.287 murid. Sebagian besar murid jatuh pada mata uji Geografi. ”Nilai rata-rata mata uji Geografi tahun ini terendah di SMA Jurusan IPS. Banyak yang tidak bisa memenuhi standar kelulusan UN 5,5,” kata Ketua Panitia Pelaksana UN DIY Baskara Aji, Minggu.

Di jenjang SMK, SMA Jurusan Bahasa, dan SMA Jurusan Agama, penyebab ketidaklulusan tertinggi adalah mata uji Bahasa Inggris dengan nilai rata-rata terendah dibandingkan dengan mata uji lainnya.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DI Yogyakarta Suwarsih Madya mengatakan, turun drastisnya angka kelulusan di DIY sejauh ini belum bisa dipastikan faktor penyebabnya. Salah satu penyebab diduga karena banyak beredarnya kunci jawaban palsu lewat SMS sebelum pelaksanaan UN di DIY. ”Tapi, faktor penyebab ini masih akan kami evaluasi lagi,” ujarnya.

Di Bali, angka kelulusan ujian nasional tingkat SMA/SMK di Bali tahun 2010 merosot. Jumlah siswa yang tidak lulus 1.093 orang, jauh di atas tahun sebelumnya yang hanya 66 orang.

Kepala Dinas Pendidikan dan Olahraga Provinsi Bali Wayan Suasta di Denpasar, Minggu, mengungkapkan, angka ketidaklulusan paling tinggi ditemukan di Buleleng, sementara terendah di Bangli.

”Sebagian besar ketidaklulusan karena rendahnya perolehan nilai pada mata pelajaran Bahasa Indonesia,” ujarnya. (LUK/IRE/BEN/CHE)


Murid SMA Ciptakan Rumus Matematika Kematian Michael Jackson

April 23, 2010

BOGOR–Misteri meninggal dunianya Raja Pop Dunia, Michael Jackson menarik rasa ingin tahu seorang siswa SMA Negeri1 Bogor, Jawa Barat, Oki Novendra (17 tahun). Oki berhasil menjelaskan kematian sang raja pop dunia, Michael Jackson’ melalui rumus Matematika.

Didorong rasa penasaran terhadap kematian idolanya, dan kegemarannya pada mata pelajaran Matematika, Oki pun mencoba mengutak-atik rumus. “Saya ingin tahu dengan misteri kematian Michael Jackson. Selain sebagai fans, saya juga pernah berbicara dengan salah seorang dosen Universitas Indonesia (UI) pada Januari 2010,” kata Oki, Selasa (20/4) lalu.

Oki kemudian mendapat literatur dan tambahan pengetahuan tentang pengendapan obat dalam darah. Selanjutnya, ia mencoba mengembangkan dan mengaitkannya dengan kematian Michael Jackson.

Siswa kelas X .6 –setara dengan kelas 1 SMA– ini mengatakan, ia meneliti misteri wafatnya Michael Jackson dengan memakai rumus turunan diferensial. “Saya mencoba meneliti dengan rumus turunan diferensial. Yakni dy/dx = -ky. Artinya suatu y berbanding dengan x akan menghasilkan ky. Y itu merujuk pada obat sedangkan x pada waktu,” kata Oki .

Kematian Jacko erat kaitannya dengan dosis obat yang sering dikonsumsinya. Berdasarkan rumus turunan diferensial ini, menurut Oki, apabila komposisi obat tetap dan waktunya sama seperti yang dianjurkan oleh dokter, maka konsentrasi obat tidak akan naik dan efek pengendapan darah dalam tubuh tidak tinggi.

“Michael Jackson  mengonsumsi obat agar ia tampil prima di depan publik saat di atas panggung. Obat yang dikonsumsinya menimbulkan efek samping karena jumlah yang dikonsumsi dan frekuensi konsumsi obat berlebihan. Itu sudah melewati batas aman, dan terjadi pengendapan obat dalam darah. Selain itu juga mengganggu kinerja syaraf,” kata Oki menjelaskan.

Penelitian terhadap misteri kematian Michael Jackson ini, membawa Oki meraih medali emas dalam Lomba Penelitian Ilmiah Remaja Tingkat Dunia Ke-17 di Grand Bali Beach, Sanur, Bali, 13 April lalu. Ia berhasil menyisihkan 100 peserta dari 13 negara. Ia mendapatkan juara pertama dalam Penelitian Bidang Matematika.

Sumber : Republika, Kamis 22 April 2010


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.